Mengenal Tradisi Qunutan Khas Banten Pada Hari ke 15 Bulan Ramadan

TANGERANG – Bagaimana tradisi qunutan pada saat ramadan di Tangerang?

Salah satu tradisi khas Banten pada hari ke 15 Ramadan adalah tradisi Qunutan.

Tradisi qunutan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan pertengahan Ramadan.

Salah satu tradisi ini telah ada di kota Tangerang.

Masyarakat menghidangkan hidangan khas seperti ketupat, sayur kulit tangkil dan sayur labu untuk dinikmati bersama keluarga, serta dibagikan kepada kerabat atau disumbangkan di masjid atau mushola.

Selain itu, hidangan pendamping seperti opor ayam, telur balado, atau semur daging turut menyemarakkan perayaan tradisi ini.

Makanan khas ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri, tetapi juga telah menjadi tradisi pada pertengahan bulan Ramadan.

Dikenal dengan istilah qunutan atau kupatan, ketupat yang sudah matang dibawa ke masjid menjelang magrib, kemudian dibagikan kepada jemaah secara acak setelah shalat magrib berjamaah disertai tahlilan.

Ketupat terbuat dari bahan dasar beras dan daun kelapa muda, yang memiliki makna simbolis.

Beras melambangkan nafsu, sementara daun kelapa muda atau janur diartikan sebagai “jatining nur” (cahaya sejati) dalam Bahasa Jawa, yang mencerminkan hati nurani seseorang.

Dengan demikian, ketupat menjadi representasi dari perjuangan manusia untuk mengendalikan nafsu dunia dengan mengikuti kebijaksanaan hati nurani.

Pembuatan ketupat merupakan lambang permohonan maaf dan berkah menjadi momen penting dalam tradisi ini.

Biasanya dimulai dengan pembuatan kurung atau anyaman ketupat dari janur oleh masyarakat atau mereka membeli kulit ketupat dari para pengrajin kulit ketupat untuk kemudian dimasak bersama dengan beras. 

Tradisi qunutan bukan sekadar ungkapan rasa syukur atas setengah bulan ramadan yang telah berlalu, tetapi juga bentuk berbagi dan mempererat silaturahmi antar sesama.

Pembacaan doa qunut pada akhir rakaat tarawih menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini yang memperdalam makna kebersamaan dalam beribadah.

Tradisi Kupat Qunutan telah ada sejak zaman kesultanan Banten sekitar 1651 Masehi.

Selain itu, tradisi ini merupakan bagian dari upaya pihak kesultanan dalam memantau keadaan sosial masyarakat menjelang akhir bulan Ramadan.

Tradisi Kupat Qunutan dianggap sebagai medium silaturahmi dan meningkatkan keakraban antar masyarakat kampung.

Penulis: Mochammad Rizky Putra Pratama

Sumber: Merdeka.com

Sumber Foto: Canva

March 25, 2024

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *