staradio5G – Teman Tangerang, Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan Teheran sudah melayangkan sekumpulan persyaratan terbaru untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Untuk wawancara khusus terhadap Al Jazeera hari Sabtu (10/10), Rezaei mengungkapkan Teheran sudah memberitahukan persyaratannya kepada AS lewat mediator Qatar, Senin (12/10/26).
Kemudian, Rezaei menekankan, meski Iran melayangkan syarat baru dengan memulai babak baru negosiasi, Teheran masih jauh lebih tangguh menghadapi perang dibandingkan di 40 hari pertama konflik itu, yang dimulai pada akhir Februari sesudah serangan gabungan AS-Israel kepada Iran.
“Kami akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, serta melancarkan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan,” kata Rezaei.
Berikut persyaratan yang disampaikan Rezaei terhadap Al Jazeera:
- Mengakhiri perang di semua front, khususnya di Lebanon.
- Membebaskan dana Iran yang dibekukan senilai miliaran dolar AS.
- Mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Mengakhiri campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Iran.
- Mengakhiri kerja sama AS dengan “pihak-pihak yang menentang revolusi kami”.
- Menghentikan seluruh serangan AS terhadap wilayah Iran.
“Kepentingan Washington adalah menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan membuahkan hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan,” kata Rezaei.
Demikian sederetan persyaratan baru itu memiliki banyak kesamaan dalam tuntutan yang tercantum untuk MoU yang ditandatangani pada Juni. Kesepakatan tersebut juga mencakup penghentian perang di semua front (medan pertempuran), termasuk Lebanon; penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing pihak serta larangan mencampuri urusan dalam negeri; penghentian blokade laut dari kedua belah pihak; dan pembebasan dana Iran yang dibekukan. MoU itu juga mengusulkan rencana pembangunan kembali senilai US$300 miliar yang didukung AS. Kedua pihak ikut menyepakati, Iran tak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir beserta Teheran bakal membuka Selat Hormuz supaya kapal-kapal bisa melintas secara aman.
Juga AS diwajibkan memberikan pengecualian sanksi yang memungkinkan ekspor minyak mentah Iran serta layanan lainnya, tak menjatuhkan sanksi baru kepada Iran, dan tidak mengerahkan tambahan pasukan AS ke kawasan itu. Untuk wawancara tersebut, Rezaei tak menyebut perbaikan perang dari AS, yang sebelumnya pernah dituntut Teheran.
Kemudian, AS belum memberikan tanggapan terhadap persyaratan baru Iran. Rezaei menyatakan, Iran “menunggu Amerika menerima dan melaksanakannya”. Meski demikian, hari Sabtu, AS memperingatkan warganya di Irak, Bahrain, Oman, Arab Saudi, Iran, Qatar, Lebanon, Kuwait, serta Yordania supaya meningkatkan kewaspadaan. Washington mengungkapkan, “situasi keamanan masih kompleks dan berpotensi mengalami eskalasi yang tidak terduga”.
Pada akhirnya, Presiden AS Donald Trump juga mempersingkat kunjungan akhir minggunya ke Camp David. Menurut Gedung Putih, dia kembali ke Washington, DC, hari Sabtu dari kompleks kepresidenan yang terpencil pada pedesaan Maryland. Gedung Putih tak memberikan penjelasan mengenai kepulangannya lebih awal itu, yang terjadi yang sedang meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi serta Houthi. Menurut Rob Geist Pinfold, dosen di King’s College London, Trump mungkin bakal menanggapi serius nota yang diajukan Iran, selaku bagian dari usaha mengakhiri perang sebelum pemilu setengah waktu AS pada November.
Sumber: cnnindonesia.com




