staradio5G – Teman Tangerang, Dinas Ketahanan Pangan yaitu (DKP) Kota Tangerang memastikan persediaan serta harga bahan pangan penting pada wilayah Kota Tangerang, berada untuk kondisi aman dan lumayan stabil sampai akhir tahun, Selasa (27/10). Kepala DKP Kota Tangerang, Muhdorun mengungkapkan, hasil pengawasan berulan di pasar tradisional menunjukkan ketersediaan barang dagangan penting seperti beras, minyak goreng, beserta gula pasir masih mencukupi kebutuhan masyarakat, Rabu (28/10/26).
“Berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan, stok pangan mencukupi dan harga relatif stabil. Untuk menjaga kestabilan ini, kami terus menggelar bazar murah serta memaksimalkan layanan keliling Bang Sama (Bento Pangan Sahabat Masyarakat) yang mendistribusikan beras murah langsung ke pemukiman,” ujarnya saat ditemui di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (27/10/2026).
Kemudian, Muhdorun menerangkan, Kota Tangerang sangat bergantung di ketersediaan pangan dari luar daerah akibat keterbatasan lahan pertanian lokal. Ia menambahkan, luas lahan sawah di Kota Tangerang hanya tersisa 88 hektare dalam kapasitas produksi sekitar 700 ton beras per tahun, sementara total kebutuhan mencapai 188 ribu ton per tahun.
“Karena ketergantungan pasokan dari luar daerah cukup tinggi, fokus utama kami ada pada pengendalian dan pengawasan rantai distribusi. Kami memastikan pasokan masuk dengan lancar dan tidak ada praktik penimbunan maupun penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET),” tegasnya.
Pada akhirnya, dia menegaskan, kemampuan beli persediaan nasional juga mendukung kelancaran program Gerakan Pangan Murah yakni (GPM) serta program Bang Sama di lapangan tanpa hambatan ketersediaan. Selain menjaga stabilitas harga serta stok, DKP Kota Tangerang sedang terus-menerus menyuarakan pembuktian konsumsi pangan lokal. Langkah tersebut diambil dengan menyeimbangkan bentuk konsumsi masyarakat yang masih kebanyakan beras. Data DKP mencatat, tingkat konsumsi beras warga Kota Tangerang mencapai 72 kg per kapita per tahun. Angka itu berbanding jauh dalam tingkat konsumsi sumber karbohidrat pilihan lain seperti umbi-umbian yang baru mencapai 3,19 kg per kapita per tahun.
“Kami mengedukasi masyarakat untuk mulai mengonsumsi pangan lokal non-beras. Diversifikasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberi ruang bagi petani lokal untuk berkembang sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian sektor pertanian di Kota Tangerang,” imbuhnya.
Sumber: penamerdeka.com




