staradio5G – Teman Tangerang Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto berziarah ke Taman Makam Pahlawan Taruna di Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang. Ziarah serta tabur bunga menjadi rangkaian aktivitas menjelang peringatan HUT ke-81 RI, Minggu (09/08/26).
“Jadi kita berkumpul bersama keluarga dan masyarakat melaksanakan kegiatan jalan santai. Kemudian kita laksanakan kebersihan di makam (TMP) tadi, bakti sosial, bagi-bagi bantuan sosial kepada masyarakat,” kata Agus di Kampus Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan, Minggu (9/8/2026).
Kemudian, Agus Andrianto menginginkan rangkaian aktivitas itu bisa meriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI di 17 Agustus mendatang. Dia ingin jasa para pahlawan selalu dikenang.
“Ini merupakan rangkaian daripada peringatan yang kita laksanakan. Mudah-mudahan ini menjadi semangat buat kita untuk bisa berkontribusi secara aktif, secara nyata kepada keluarga maupun pada masyarakat, dalam rangka menyemarakkan Hari Kemerdekaan,” katanya.
Demikian Taman Makam Pahlawan Taruna yang dikunjungi menjadi persemayaman terakhir para pejuang yang gugur di saat mempertahankan kemerdekaan. Di antaranya, Mayor Daan Mogot, Sutopo sampai Subianto Djojohadikusumo, paman Presiden Prabowo.
“Tadi (ziarah makam) Pak Daan Mogot, tadi ada keluarganya. (Kemudian) Pak Subiyanto, Pak Subiyanto Djojohadikusumo dan sebagainya,” kata Agus.
“Ini adalah pahlawan-pahlawan muda yang pada saat itu mempertahankan kemerdekaan, yang sudah disampaikan oleh proklamator kita pada 17 Agustus. Kejadiannya (gugur) kan tahun ’46, ini merupakan masa yang kritis, masa transisi dari sebelum Indonesia ada, karena kan sebelum 17 Agustus kan belum ada Indonesia,” sambungnya.
Juga Pengelola TMP Taruna di saat mendampingi menteri Agus menyebutkan pejuang yang dimakamkan pada lokasi merupakan 3 perwira serta 34 taruna akademi militer Tangerang. Rata-rata taruna yang meninggal masih belasan tahun.
“Yang meninggal ada 34 taruna dan di antaranya tiga perwira, perwiranya adalah Mayor Daan Mogot, kemudian Bapak Sutopo, satu lagi Pak Subianto Jojohadikusumo, itu yang kebetulan pamannya Pak Prabowo (Presiden Prabowo).
“Tetapi semua yang gugur adalah sama, yaitu para taruna yang usianya baru sekitar 17 sampai 20 tahun,” tambahnya.
Secara keseluruhan, puluhan pejuang tewas ketika hendak mengambil persenjataan tentara Jepang setelah kemerdekaan. Akan tetapi Jepang memilih menyerahkan senjata terhadap tentara sekutu.
“Nah beliau semua gugur di Desa Lengkong Wetan, kemudian itu terjadi tanggal 25 Januari 1946, dalam rangka Perlucutan Senjata Jepang. Tetapi mereka belum mau menyerahkan kepada Indonesia, mereka inginnya menyerahkan kepada sekutu,” katanya.
Sumber: news.detik.com




