staradio5G – Teman Tangerang, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperingatkan Inggris harus siap untuk bertempur serta memenangkan perang dalam 1.000 hari ke depan. Karena sejalan dalam usaha negara-negara yang memusuhi Inggris untuk memperluas kemampuan militer mereka. Dalam tulisannya pada surat kabar The Telegraph, Streeting sebut pihak-pihak yang memusuhi Inggris mungkin bakal siap melancarkan serangan di tahun 2030. Hal tersebut memberikan waktu untuk Inggris dan sekutu NATO selama kurang lebih tiga tahun untuk melakukan persiapan, Selasa (27/10/26).
“Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang telah berubah adalah kapasitas mereka. Menjelang tahun 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk menyerang. Ini memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan meraih kemenangan,” tulisnya.
“Untuk mencegah skenario terburuk, kita harus bersiap menghadapinya. Prioritas utama saya adalah memastikan negara ini siap untuk bertempur dan memenangkan perang,” tambahnya, dilansir Anadolu.
Kemudian, Streeting juga memperingatkan mengenai ancaman yang terus meningkat oleh negara-negara yang memusuhi Inggris, serangan siber, kejahatan terorganisir, dan perubahan iklim termasuk risiko terhadap infrastruktur yang sangat penting. Saat berbicara di BBC, dia mengungkapkan, Inggris menghadapi tingkat ancaman yang lebih besar “dibandingkan dengan apa yang pernah kita alami sepanjang hidup saya, atau setidaknya sebagian besar masa hidup saya.” Peringatan itu muncul bersamaan dalam peluncuran kampanye pemerintah yang bertema “Be Ready” (Bersiaplah), yang mengajak rumah tangga untuk menyimpan persediaan kebutuhan pokok yang cukup dalam tiga hari jika terjadi keadaan darurat nasional.
Demikian petunjuk itu menyarankan supaya masyarakat menyimpan air minum dalam kemasan, makanan yang tahan lama, uang tunai, serta kebutuhan penting lainnya di rumah. Pemerintah mengungkapkan, tindakan mandiri tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan nasional, bukan selaku tanggapan terhadap peringatan informasi rahasia tertentu. Streeting menegaskan, istilah-istilah seperti “perang hibrida” dan “ancaman zona abu-abu” tak cukup menggambarkan risiko yang ditimbulkan dari negara-negara yang memusuhi Inggris.
“Sangatlah penting bagi kita untuk bertanya kepada rumah tangga maupun pelaku bisnis: apakah mereka sudah siap? Apakah mereka telah bersiap sedia? Apakah mereka tahu bagaimana harus merespons jika menghadapi tantangan sehari-hari yang mungkin muncul?” ujarnya, sebagaimana dikutip oleh The Mirror.
“Menghadapi ancaman-ancaman tersebut—yang bukan sekadar hipotesis melainkan nyata, dan bukan terjadi di tempat lain melainkan semakin sering terjadi di sini—kita harus meningkatkan upaya dan menanggapi ketahanan nasional serta pertahanan nasional kita dengan serius,” tambahnya.Pemerintah merujuk pada insiden keamanan perangkat lunak PHP baru-baru ini sebagai bukti tambahan perlunya kesiapsiagaan. Kerentanan yang diungkap pada hari Rabu mendorong pemerintah dan pelaku bisnis di seluruh dunia untuk memperkuat sistem mereka, memicu jutaan upaya peretasan, dan menyebabkan sejumlah layanan tidak dapat beroperasi.
Selanjutnya, Streeting memperingatkan peristiwa siber/digital bisa menjadi lebih sering terjadi karena kecerdasan buatan yakni (AI) memudahkan pihak penyerang dengan menembus pertahanan lama. Andy Burnham juga meminta pendekatan yang lebih tanggap untuk menghadapi keadaan darurat. Dalam sebuah pertemuan mengenai penanganan kebakaran hutan, dia menekankan, Inggris sebelumnya cenderung “pasif” (kurang sigap), sambil mengumumkan rencana baru penanganan kebakaran hutan yang termasuk pengerahan pesawat militer.
“Ini bukan soal panik. Ini hanya soal mengambil langkah-langkah yang masuk akal dengan menyediakan kebutuhan yang cukup di rumah untuk membantu Anda bertahan jika terjadi situasi sulit,” ujar Burnham kepada BBC.
Pada akhirnya, seruan dari Inggris ini sejalan dalam petunjuk yang dikeluarkan dari Komisi Eropa di Maret 2025, yang mendukung warga Uni Eropa dengan menyiapkan perlengkapan darurat dalam kebutuhan selama 72 jam, yang termasuk barang-barang penting seperti makanan, air, uang tunai, serta bank daya.
Sumber: rctiplus.com




