Houthi menyerang, Arab Saudi tutup jalur pipa minyak sepanjang 1.200 Km, pasar energi dunia terancam “Kiamat Minyak”

staradio5G – Teman Tangerang, Arab Saudi menutup sementara jalur pipa minyak Timur-Barat sesudah fasilitas vital itu diserang drone, yang sedang meningkatnya tekanan kepada jalur pelayaran energi pada kawasan Timur Tengah. Langkah itu menyebabkan kekhawatiran baru kepada persediaan minyak global serta berkemungkinan meningkatnya harga energi yang semakin tinggi. Melansir Reuters, Senin (14/09/26), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengungkapkan, penutupan dijalankan selaku langkah pencegahan sesudah serangan drone yang menurut Baghdad serta Riyadh yang berasal dari Irak. Serangan ini menyebabkan sebagian orang terluka serta menimbulkan kerusakan yang masih dengan tahapan pemeriksaan.

Demikian jalur pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer ini merupakan salah satu jalur jalan keluar terpenting untuk ekspor minyak Timur Tengah selama Selat Hormuz sebagian besar tertutup akibat perang. Pipa itu bisa mengalirkan sekitar 4 juta-5 juta barel minyak per hari, setara 4%-5% pasokan minyak global. Tekanan terhadap pasar energi semakin besar karena kelompok Houthi di Yaman memperketat pengaruh di Laut Merah. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi sebut rudal yang ditembakkan Houthi melukai dua orang di Jazan serta merusak beberapa bangunan, sementara empat sumber pemerintah Yaman menyatakan, Houthi sudah merebut Pulau Perim di tengah Selat Bab el-Mandeb.

Kemudian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan, Iran kemungkinan berada di balik serangan kepada jalur pipa Saudi. Di saat yang sama, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan meminta bantuan militer AS untuk menghadapi Houthi, tapi Washington dengan sementara memilih tak turun tangan langsung serta menawarkan dukungan intelijen. Situasi ini terjadi ketika harga minyak sudah meningkat dalam seminggu terakhir. Harga diesel ritel di AS sudah menembus rekor US$6 per galon, mencerminkan semakin besarnya risiko gangguan persediaan dan pengiriman energi. Selain itu, kesempatan meredakan ketegangan lewat diplomasi masih terbatas. Pejabat senior Iran menerangkan, pertemuan dengan negara-negara Teluk di Oman pada Senin bakal membahas masa depan Selat Hormuz, tapi tak diinginkan menghasilkan kesepakatan tertulis.

“Selama pihak Amerika tidak menerima semua syarat Iran, dialog dan negosiasi tidak ada gunanya,” kata Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi.

Secara keseluruhan, tekanan akhirnya menyebar ke pembuatan serta arus ekspor. Badan Energi Internasional yaitu IEA sebut persediaan minyak mentah Arab Saudi sudah turun ke level terendah untuk lebih dari tiga puluh tahun, sementara pergerakan Houthi di sepanjang Laut Merah serta gangguan di jalur penting kawasan meningkatkan risiko terbentuknya krisis persediaan yang lebih luas, memunculkan ancaman “Kiamat Minyak” dalam pasar energi dunia.

Sumber: cnbcindonesia.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *