Hentikan Silent Treatment, Bisa Berdampak ke Mental Seseorang

TANGERANG Silent treatment sering menjadi komunikasi agresif-pasif yang menyiksa. Perlakuan ini biasa terjadi ketika seseorang merasa marah, kecewa, dan cenderung menghindari konflik atau sebagai respond dari emosi yang meluap-luap maka mengambil jalan dengan mendiamkan pasangannya.

Perilaku silent treatment memiliki dampak bagi kondisi mental seseorang karena hilangnya komunikasi menghambat penyelesaian masalah, menimbulkan ketegangan, dan membuat hubungan menjadi tidak sehat.

Profesor Ilmu Psikologi di Purdue University, India, Kip Williams telah mempelajari dampak silent treatment selama 40 tahun terakhir. Ia terinspirasi melakukan penelitian silent treatment karena takjub dengan film dokumenter The Silence yang menampilkan banyak adegan tanpa dialog, keterasingan, diabaikan hingga dikucilkan. Perilaku yang satu ini pun bukan sesuatu yang baru.

Bahkan kata Williams, silent treatment sudah ada sejak dulu. Williams mengakui, berada di pihak yang didiamkan akan terasa menyusahkan karena hal ini bisa mengancam seluruh kebutuhan manusia selain makanan, tempat tinggal dan keamanan terpenuhi. Berikut beberapa dampak silent treatment pada kondisi mental seseorang:

  • Merasa diabaikan dan kehilangan
    Konsep piramida menurut Abraham Maslow, ketika seseorang menerima perlakuan silent treatment, maka orang itu bisa merasa kehilangan atau diabaikan karena pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan yang lebih kompleks. Seperti kebutuhan untuk memiliki hubungan sosial, merasa nyaman dengan diri sendiri, dan kebutuhan merasa ada yang mengakui keberadaan kita. Pada penelitian Williams, mengidentifikasi jika seseorang dikucilkan, maka efek di area otak akan merasa seperti mengalami rasa sakit fisik. “Bertengkar dengan seseorang itu tidak bagus. Tetapi setidaknya, Anda masih terhubung, Anda mengakui satu sama lain. Tetapi pengucilan atau mendiamkan seseorang lebih terasa menyusahkan karena menghilangkan semua kebutuhan manusia,” kata Williams.

 

  • Kehilangan harga diri
    Silent tratment bisa dilakukan siapa saja. Selain itu hal ini tidak berkaitan dengan kepribadian tertentu. Biasanya beberapa orang melakukannya karena tidak memiliki pilihan atas kekecewaan mendalam selain diam. Alasan lain karena merasa tidak aman untuk mengekspresikan emosi mereka. Ada kemarahan hingga rasa frustasi yang meluap-luap, tetapitidak mampu memetakan ke mana emosi ini bisa dikeluarkan, akhirnya diam sering dianggap solusi. Jika pola itu terus berlanjut dan berlangsung lama, seseorang yang didiamkan bisa merasa kehilangan harga diri dan perspektif.

 

  • Membuat korban merasa kebingungan
    Orang yang didiamkan karena perlakuan silent treatment akan merasa kebingungan harus berbuat apa. Di satu sisi, mereka mungkin merasa kewalahan secara emosional dan tidak mampu memahami situasi dan kondisi. “Ada respons yang muncul seperti melawan atau berlari, pengucilan seperti ini bisa ‘mematikan’ langkahnya,” lanjut Williams.

 

  • Merasa tertekan dan kesepian
    Orang seringkali tidak menyadari dampak dari perlakuan diam mereka. Seiring waktu, hal itu bisa membuat seseorang yang didiamkan selama waktu tertentu merasakan kesepian dan tertekan. Padahal pada situasi konflik, perilaku silent treatment justru tidak dapat memecahkan masalah. Kondisi hubungan akan semakin sulit untuk dijalani. Para ahli menyarankan untuk membuka obrolan dan komunikasi terbuka untuk segera mencairkan suasana. Meski bukan satu hal yang mudah, tetapi untuk berhubungan kembali, komunikasi adalah kuncinya. “Penting untuk menetapkan titik akhir, sehingga keheningan tidak meluas dan merembet berhari-hari, bahkan lebih lama.” “Pola seperti ini dapat berbahaya, jika sikap diam digunakan sebagai bentuk manipulasi atau kontrol, hal itu termasuk tindakan kasar dan mengkhawatirkan,” jelas Psikoterapis yang berbasis di AS, Julie Murray.

Penulis: Farah Thalia

January 5, 2024

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *