staradio5G – Teman Tangerang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yaitu (BMKG) mengungkap lapisan asap kebakaran hutan dan lahan yakni (karhutla) sempat terdeteksi berada di atmosfer wilayah Jakarta. Tapi, lapisan asap itu masih berada di ketinggian sekitar 2-3 kilometer serta belum tentu turun ke udara dekat permukaan yang dihirup masyarakat. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki menyatakan, keberadaan lapisan asap tersebut terlihat melewati gambaran satelit Himawari-9. Selain DKI Jakarta, lapisan asap terdeteksi berada di wilayah Banten dan Jawa Barat. Asap itu terbawa angin pada lapisan atmosfer atas. Karena itu, keberadaannya tak serta-merta menunjukkan bahwa polusi udara di permukaan Jakarta mengalami peningkatan, Minggu (18/10/26).
“Artinya, citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG menunjukkan adanya lapisan asap di udara di atas wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Lapisan ini berada di ketinggian sekitar 2 sampai 3 kilometer dan terbawa angin di lapisan atas. Dalam bahasa sederhana, asap tersebut ‘lewat di atas’ dan belum turun ke udara dekat permukaan yang kita hirup,” kata Marjuki saat dihubungi detikcom, Minggu (18/10/2026).
Kemudian, untuk bahasa sederhananya, Marjuki menerangkan, asap itu masih melintas pada lapisan atas atmosfer. Secara demikian, keberadaan asap di atas Jakarta belum tentu berarti masyarakat telah menghirup asap karhutla itu.
“Karena itu, keberadaan asap di atmosfer belum tentu menaikkan polusi udara di permukaan,” ujarnya.
Selanjutnya, Marjuki menegaskan, lapisan asap pada atmosfer bisa membuat langit terlihat lebih keruh atau abu-abu. Secara demikian, perubahan penampakan langit tak bisa langsung dijadikan pegangan untuk menilai kualitas udara yang dihirup masyarakat. Menurutnya, kondisi asap di lapisan atas atmosfer bisa berubah mengikuti dinamika angin serta kondisi atmosfer. Apabila kondisi itu berubah, asap kemungkinan turun sampai ke permukaan.
“Lapisan asap ini dapat membuat langit tampak lebih keruh atau kelabu dan asap bisa turun ke permukaan apabila kondisi angin dan atmosfer berubah. Oleh sebab itu, BMKG terus memantau perkembangannya, termasuk melalui pengukuran PM 2.5 di permukaan,” tuturnya.
Secara keseluruhan, Marjuki menekankan, keberadaan asap pada atmosfer tak bisa dijadikan satu-satunya dasar dengan membuat kesimpulan bahwa udara di permukaan tercemar akibat karhutla. Dengan mengetahui kondisi udara yang benar-benar dihirup masyarakat, diperlukan data pengukuran kualitas udara pada permukaan. Masyarakat bisa menghubungkan di data PM 2.5 dari BMKG dan Indeks Standar Pencemar Udara yakni (ISPU) yang disediakan Kementerian Lingkungan Hidup. Pengukuran itu membantu memberikan gambaran kondisi kualitas udara pada wilayah tempat masyarakat berkegiatan. Selain mengawas lapisan asap melewati gambaran satelit, BMKG terus mengikuti perkembangannya dengan mengetahui perubahan kondisi atmosfer yang kemungkinan memengaruhi kualitas udara di permukaan.
Sumber: news.detik.com




