staradio5G – Teman Tangerang, lalu lintas kapal pengangkut barang dagangan di Selat Hormuz anjlok ke level terendah sedari Mei sesudah serangkaian serangan Amerika Serikat yaitu AS serta Iran kepada kapal tanker. Kondisi itu meningkatkan risiko kepada jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute daya terpenting dunia. Data perusahaan analitik pelayaran Kpler menunjukkan rata-rata hanya 10 kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari untuk 10 hari terakhir. Angka ini turun lebih dari 15 kapal di Jumat (04/09) serta hampir 13 kapal pada Sabtu (05/09), Senin (07/09/26).
Demikian Sabtu (05/09), hanya dua kapal yang tercatat lewat selat ini, sementara enam kapal melintas pada Minggu. Sebagian besar kapal memilih menggunakan rute yang berada di sisi Iran, menunjukkan meningkatnya kehati-hatian pengemudi pelayaran di tengah peningkatan konflik. Pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, menurut US Central Command. Salah satu serangan terjadi pada lepas pantai Pulau Kharg, pusat penting ekspor minyak Iran, sesudah Korps Garda Revolusi Islam yakni IRGC yang sebelumnya menyerang kapal perang AS pada kawasan ini.
Juga Angkatan laut IRGC kemudian klaim sudah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang menggunakan rute tak resmi di Selat Hormuz dan tiga kapal AS di wilayah lain. Tiga tanker Iran yang disebut terdampak yaitu Downy, Stark I, dan Kylo, yang juga dikenal selaku Noxen, berdasarkan catatan intelijen maritim Marisks. Marisks sebut serangan inin sebagai “eskalasi besar dalam konflik maritim”. Risiko kepada pelayaran dinilai semakin tinggi.
“Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, yang secara substansial melemahkan batasan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Senin (7/9/2026).
“Risiko dinilai ekstrem bagi kapal-kapal milik atau terkait Iran, dan meningkat secara signifikan bagi kapal-kapal yang terkait atau dikawal AS di sepanjang Selat Hormuz dan Teluk Oman,” kata Marisks lagi.
Secara keseluruhan, UK Maritime Trade Operations yakni UKMTO mencatat 27 kejadian serangan peluru sedari 6 Juli yang menyebabkan kerusakan kapal di dalam serta sekitar Selat Hormuz. Data Kpler juga menunjukkan tak ada kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar yaitu VLCC yang keluar dari selat ini sedari Rabu, (02/09).
Sumber: cnbcindonesia.com




