Teman Tangerang – Komite Olahraga Masyarakat Indonesia Kota Tangerang, menilai permainan tradisional pada sekolah mampu menjadi aktivitas alternatif dengan melindungi generasi muda oleh dampak negatif ketergantungan media sosial, Minggu (12/04/26).
“Kami sudah mengusulkan masuknya permainan tradisional dalam agenda kurikulum pendidikan di Kota Tangerang. Ini juga sejalan dengan program Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) agar lebih banyak interaksi sosial,” kata Ketua Kormi Kota Tangerang Sulfi Afriadi dalam keterangan di Tangerang, Minggu.
Kemudian, Sulfi Afriadi menerangkan, sebagian permainan tradisional dimulai banyak disukai anak-anak untuk kegiatan sosialisasi, yakni bakiak, egrang, ketapel dan lain-lain.
“Sejauh ini, anak-anak banyak yang tertarik, bahkan mereka berharap permainan ini ada di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, usulan ke Dinas Pendidikan agar menjadi bagian dari muatan lokal dan ekstra kurikuler,” kata dia.
Demikian, Kormi Kota Tangerang dinilainya permainan tradisional bermanfaat besar untuk proses pendidikan serta pembinaan karakter untuk generasi muda di Kota Tangerang.
Juga permainan tradisional bisa dioptimalkan selaku aktivitas alternatif dengan lindungi generasi muda oleh dampak negatif ketergantungan media sosial yang sejalan dalam substansi Peraturan Pemerintah Tunas Nomor 17 Tahun 2025 yang dorong pembatasan akses konten, data pribadi, serta keamanan digital untuk anak-anak yang belum lama ini diberlakukan.
Secara keseluruhan, Kormi Kota Tangerang mengharapkan solusi yang disampaikan bisa diterapkan selaku kolaborasi dengan cetak generasi muda daerah lebih unggul serta berprestasi.
”Permainan tradisional ini banyak manfaatnya sebagai ruang perkembangan psikis anak melalui interaksi sosial yang menarik sebelum mereka terjun ke lingkungan masyarakat lebih luas,” katanya.
Sumber: megapolitan.antaranews.com




