staradio5G – Teman Tangerang, sejumlah 106 desa yang tersebar pada 26 kecamatan di Kabupaten Tangerang mengalami krisis air bersih sedari bulan Juli sampai Oktober 2026. Kondisi itu disebabkan dari surut sampai mengeringnya sumur-sumur milik warga, sehingga ribuan keluarga harus mengandalkan ketersediaan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian, Senin (19/10/26).
Demikian berdasarkan data yang diterima Kompas.com, Badan Penanggulangan Bencana Daerah yaitu (BPBD) Kabupaten Tangerang merinci krisis air bersih itu berdampak di 34.637 Kepala Keluarga yakni (KK). Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik sebut, meski melanda 26 kecamatan, dampak kekeringan tak merata pada seluruh wilayah desa atau kelurahan setempat.
“Iya (total 26 kecamatan), tapi dalam satu kecamatan tidak seluruh desa/kelurahan mengalami hal tersebut,” ujar Achmad Taufik saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Senin (19/10/2026).
Kemudian, Achmad Taufik menyatakan, dari puluhan daerah itu, wilayah yang paling terdampak yakni Kecamatan Panongan.
“Iya (Panongan) yang rajin meminta bantuan air bersih,” katanya.
Juga beberapa kecamatan lain yang juga tercatat mengalami krisis air bersih serta terus-menerus meminta bantuan air antara lain, Kecamatan Curug, Legok, Tigaraksa, Rajeg, Balaraja, Kronjo, Pagedangan, Solear, Jambe, serta masih banyak wilayah lainnya.
Selain itu, kondisi memprihatinkan yang dirasakan warga terdampak ramai pada media sosial. Salah satunya diunggah oleh akun Threads @riana_haloho hari Minggu (18/10). Dalam unggahannya, dia memperlihatkan deretan galon milik warga yang mengantre giliran pengisian dari armada tangki air BPBD di Kecamatan Panongan.
“Ada yang sama kah? Panongan Kabupaten Tangerang krisis air ges. Sampai larut malam masih berburu air,” tulis pemilik akun tersebut.
Pada akhirnya, tampak warga memikul galon-galon yang sudah terisi air bersih dengan dibawa pulang ke rumah masing-masing demi menopang kebutuhan harian pada tengah musim kemarau yang belum selesai.
Sumber: megapolitan.kompas.com




