Iran gembira karena AS menarik pasukannya di wilayah Irak IRGC: Ini adalah “kemenangan bersejarah”

staradio5G – Teman Tangerang, Korps Garda Revolusi Islam Iran yaitu (IRGC) sambut baik penarikan pasukan Amerika Serikat yakni (AS) dari wilayah Irak, negara tetangganya. IRGC sebut selaku “kemenangan bersejarah”. Mereka juga mengajak supaya pasukan Amerika meninggalkan kawasan Timur Tengah. Untuk pernyataan yang dirilis media resmi mereka, seperti dilansir AFP, IRGC “menyampaikan selamat kepada bangsa Irak yang membanggakan, front bersatu Perlawanan Islam, dan para pejuang revolusioner dunia Islam atas kemenangan bersejarah ini”, Kamis (01/10/26).

Kemudian, koalisi pimpinan AS, yang diterjunkan ke Irak serta Suriah di tahun 2014 dengan memerangi kelompok militan Islamic State yakni (ISIS), sudah secara resmi mengakhiri misi mereka serta melakukan penarikan pasukan hari Rabu (30/09) waktu setempat. ISIS yang pernah menguasai sebagian besar wilayah penting kedua negara tersebut dan melakukan pembantaian keji, sukses dikalahkan oleh Irak di tahun 2017 beserta di Suriah pada tahun 2019. Tapi pasukan koalisi AS tetap bertahan dalam memerangi sisa-sisa kelompok militan itu. IRGC, untuk tanggapannya, mengajak supaya AS sepenuhnya meninggalkan kawasan. Disebutkan bahwa kehadiran pasukan Amerika justru merupakan “sumber ketidakamanan” pada kawasan.

“AS harus meninggalkan kawasan ini dan menyerahkan pengelolaan keamanan kepada bangsa-bangsa itu sendiri,” cetus IRGC dalam pernyataannya.

“Dua dekade pendudukan membuktikan bahwa kehadiran AS tidak membawa keamanan; justru kehadiran itu menjadi sumber ketidakamanan, terorisme, dan ketidakstabilan di Asia Barat,” sebut sayap ideologis militer Iran tersebut.

Secara keseluruhan, Baghdad serta Washington setuju dengan mengakhiri misi pasukan koalisi di tahun 2024. Para personel pasukan koalisi mulai menarik diri secara bertahap dari bermacam pangkalan pada seluruh wilayah Irak, sehingga kehadiran mereka sekarang terbatas hanya pada wilayah mandiri Kurdistan pada bagian utara negara tersebut. Pemerintah Irak meyakini bahwa penarikan pasukan koalisi itu menghilangkan alasan yang selama ini digunakan dari faksi-faksi militan berpengaruh, yang didukung Iran, dengan tetap mempertahankan persenjataan mereka. Perdana Menteri atau (PM) Irak, Ali al-Zaidi, sudah menetapkan tanggal 30 Juni tahun depan selaku batas waktu untuk faksi-faksi bersenjata dalam menyerahkan senjata mereka kepada negara.

Sumber: news.detik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *