staradio5G – Teman Tangerang, salah satu usaha membangun budaya sadar bakal bencana di Kota Tangerang lewat lingkungan pendidikan Kota Tangerang. Karena beberapa hari yang lalu Indonesia timur pulau flores diguncang gempa dahsyat 7,7 magnitudo di hari sabtu (15/08). Menyikapi kejadian ini serta mencegah segala bentuk bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tangerang mengadakan aktivitas sosialisasi meminimalisir bencana dan simulasi evakuasi darurat yang melibatkan para siswa, guru, beserta staf pengajar pada SMPN 25 Tangerang, (19/08/26).
Demikian aktivitas itu disiapkan dengan membekali warga sekolah dalam pengetahuan mudah serta pemahaman mendalam mengenai tindakan penyelamatan diri di saat terjadi situasi darurat, seperti gempa bumi dan bahaya kebakaran. Lewat simulasi ini, seluruh peserta diajak mempraktikkan tata cara standar, dimulai oleh perlindungan diri drop, cover, hold on, pemetaan jalur evakuasi, sampai berkumpul secara tertib pada titik aman yang sudah ditentukan.
Juga pentingnya tindakan langsung pada tingkat sekolah itu merupakan penggabungan antar pembekalan materi secara teori serta simulasi mudah yang bisa meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pendekatan praktis itu terbukti jauh lebih tepat guna dibandingkan sekadar penyampaian materi secara verbal, karena memberikan pengalaman panca indra beserta memori kasat mata dengan peserta didik ketika menghadapi kondisi kepanikan.
Kemudian, keterlibatan aktif serta simulasi yang diadakan pada SMPN 25 Tangerang menjadi faktor kunci untuk mengikis tingkat risiko dan kelemahan dampak bencana di area padat penduduk. Juga menunjukkan bahwa kerja sama antara BPBD beserta institusi pendidikan sukses membangun fondasi kesiapsiagaan yang tak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tapi juga berkemungkinan menular di lingkungan keluarga sampai masyarakat sekitar.
Secara keseluruhan, langkah penting BPBD Kota Tangerang pada SMPN 25 Tangerang itu merupakan wujud nyata janji daerah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tanggap, aman, serta siap menghadapi ancaman bencana alam. Penggabungan antarsosialisasi terstruktur, simulasi lapangan, dan dasar literasi berdasarkan bukti menjamin para siswa tak sekadar menjadi penonton, melainkan penggerak kesiapsiagaan kebencanaan sedari awal.
Sumber: kompasiana.com




