Teman Tangerang Dinas Kesehatan Kota Tangerang menegaskan kepada seluruh rumah sakit serta fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk menjalankan standar pelayanan medis dalam penanganan segera ketika dapatkan rujukan oleh posyandu dan puskesmas, yang berhubungan dengan anak gizi buruk ataupun stunting.
“Kami sudah sampaikan kepada sleuruh RS dan fasilitas kesehatan tingkat lanjut agar melakukan intervensi sedini mungkin saat ada rujukan balita bermasalah gizi. Sebab ini adalah upaya dalam mengatasi stunting,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Dini Anggraeni di Tangerang Minggu.
Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni menjelaskan, RS serta fasilitas kesehatan tingkat lanjut miliki peran penting untuk penanganan kasus gizi buruk serta stunting. Hal tersebut sejalan dalam komitmen bersama Pemkot bersama RS untuk layani rujukan balita stunting.
Demikian ketika ada temuan perihal balita bermasalah gizi maka penanganan utama harus segera melakukan serta Dinkes lakukan intervensi ke lingkungan sekitar sampai keluarga.
“Kami terus lakukan evaluasi agar pelayanan penanganan stunting semakin optimal dan mendukung percepatan penurunan stunting yang pada tahun kemarin sudah mencapai 5,3 persen,” tambahnya.
Juga berdasar data SSGI 2024, prevalensi di Kota Tangerang mencatat 11,2%, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Banten yang 21,1% ataupun nasional 19,8%. Di saat ini jumlah orang tua asuh stunting di Kota Tangerang sudah capai 3.217 orang asal target 4.778 di 2025.
Pada akhirnya, Sekretaris Daerah Kota Tangerang Herman Suwarman memperingatkan keseluruh jajarannya jangan lengah serta tetap damping keluarga berisiko stunting supaya dapat sepenuhnya terlepas dari penyakit.
“Kolaborasi antara kecamatan, kelurahan, PLKB, kader kesehatan, dan Tim Pendamping Keluarga sangat penting agar intervensi lebih tepat sasaran. Begitu pula peran kader posyandu dan pendamping keluarga sebagai ujung tombak intervensi gizi dan edukasi,” katanya.




