Star Radio - “The Invisible Man” Perpaduan Horor Psikologi, Thriller, dan Science Fiction
Movie & Cinema
“The Invisible Man” Perpaduan Horor Psikologi, Thriller, dan Science Fiction
February 28th | 2020

The Invisible Man (2020) ini diadaptasi dari novel karya Herbert George Well. Beberapa film sebelumnya telah mengadaptasi novel tersebut, seperti The Invisible Man (1933), The Invisible Returns (1940), dan beberapa serial televisi yaitu The Invisible Man (1958-1960), The Invisible Man (1975-1976) The Invisible Man (1984), serta The Invisible Man (2000-2002).

Film The Invisible Man (2020) merupakan reboot dari film tahun 1933.

Dark Universe

Sebelumnya pasti stars sudah mengenal Marvel yang memiliki semesta dengan berbagai ceritanya (Marvel Universe). Tak mau ketinggalan, Universal Pictures juga memiliki semesta yang diberi nama Dark Universe.

Semula The Invisible Man akan dipergunakan sebagai bagian dari dark Universe. Dark Universe sendiri merupakan sebuah semesta yang menampilkan monster-monster seperti Dracula, Mummy, dan Invisible Man itu sendiri.

Sayangnya, film The Mummy yang dibintangi oleh Tom Cruise jeblok di box office Universal pun membatalkan Dark Universe tersebut. Film The Invisible Man yang semula akan memasukkan Johnny Depp, kemudian dikerjakan ulang. Johnny Depp akhirnya mundur dari proyek ini.

Produser Jason Blum dari Blumhouse Production kemudian digandung oleh Universal untuk menyelesaikan film The Invisible Man. Blumhouse Production sebelumnya sukses dalam membuat film-film horror. Leigh Whannell menjadi penulis naskah sekaligus sutradara dari The Invisible Man.

Leigh Whannell adalah penulis, sutradara, produser, dan juga aktor. Pria kelahiran Melbourne, Australia tahun 1977 ini sebelumnya menulis naskah film Saw (2004), Dead Silence (2007), Insidious (2010), dan Insidious Chapter 2 (2013). Ia juga menyutradari Insidious Chapter 3 (2015). Upgrade (2018), dan The Invisible Man.

Tegang Sejak Awal

Tone gelap sudah mewarnai The Invisible Man sejak awal, dengan menampilkan suasana malam hari sebuah rumah mewah yang berdiri di atas tebing di tepi pantai. Cecilia Kass (diperankan Elisabeth Moss) tengah berusaha melarikan diri dari suaminya, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) yang sedang tidur.

Suasana tegang sudah bisa dirasakan sejak awal, saat Cecilia mengendap-endap hendak keluar rumah. Kejutan pertama ketika tanpa sengaja kaki Cecilia menendang tempat makanan anjing dan menimbulkan suara berisik. Sebenarnya ini adegan biasa saja, namun sang sutradara sangat piawai membuatnya menjadi hal yang menegangkan.

Cecilia berhasil meninggalkan rumah tersebut, tempat dimana dia dikendalikan serta mendapat kekerasan dari suaminya. Cecilia menumpang di rumah sahabantnya yang berprofesi sebagai seorang polisi bernama James (Aldis Hodge) yang memiliki anak perempuan bernama Sydney (Strom Reid)

Cecilia kemudia mendapatkan berita bahwa Adrian meninggal dunia karena bunuh diri. Namun, Cecilia tidak percaya kabar duka itu. Ia bahkan merasa ada yang mengawasi dan membuntutinya, sesuatu yang tak terlihat oleh mata.

Keganjilan demi keganjilan dialami oleh Cecilia. Mulai dari sepucuk surat dalam kotak surat di rumah James yang ditujukan kepada Cecilia, padahal ia merasa tidak ada orang lain yang mengetahui persembunyiannya.

Kemudia Cecilia berbincang berdua dengan Sydney, tiba-tiba ada yang menampar Sydnet. Sydney berteriak dan membuat James datang untuk mengamankan putrinya tersebut dari Cecilia.

Cecilia berusaha membuktikan kepada orang-orang bahwa dirinya tengah diburu oleh makhluk tak kasat mata. Namun, orang di sekitarnya justru menganggap dirinya seperti sedang mengalami gangguan kejiwaan.

Untuk membuktikan keyakinannya, Cecilia kembali datang ke rumah Adrian. Ia masuk ke salah satu ruang semacam laboratorium, dan menemukan sesuatu yang akan mengungkapkan rahasia di balik keanehan yang menimpanya.

Gabungan Psikologi, Thriller, dan Sci-Fi

The Invisible Man tak sekedar film horror. Film ini merupakan perpaduan dari film psikologi, thriller, dan science fiction yang akan membuat penonton tegang sekaligus penasaran tentang apa yang dialami oleh sang tokoh utamanya, Cecilia.

Penonton bisa merasakan kecemasan yang dialamu Cecilia, ketika orang-orang tidak percaya omongannya. Cecilia bahkan menjadi tersangka pembunuhan, padahal ia yakin bahwa bukan dirinya yang melakukan pembunuhan tersebut.

Wajah Cecilia berkali-kali ditampilkan secara close up. Wajah pucat tanpa make-up, rambut berantakan, dan tatapan mata yang kosong menggambarkan betapa beratnya masalah kejiwaan yang tengah dialaminya.

Ketegangan dan kejutan membuat penonton tak bisa duduk tenang sepanjang film. Misalnya ada pisau tiba-tiba muncul tanpa dikeahui siapa yang memegangnya. Juga adegan di rumah sakit jiwa yang menampilkan sesuatu tak kasat mata memburu Cecilia dan menembaki para petugas penjaga.

Sementara itu, sisi science yang ada di film ini akan mengajak penonton perlahan-lahan bisa menemukan mengapa dan bagaimana makhluk tak kasat mata tersebut bisa melakukan terornya atas Cecilia.

 

 

 

Hmmm gimana nih stars, tertarik ga buat nontonnya? Pecinta film horror tentunya sangat tertarik sama film ini. Selamat menonton yang star!!!

 

--

Steven Sung

Share This