Star Radio - Review Film Joker dari Kacamata Orang Tua dan Psikolog Anak
Movie & Cinema
Review Film Joker dari Kacamata Orang Tua dan Psikolog Anak
October 4th | 2019

Staradio1073fm.com – Stars, Sejak awal minggu ini, ramai beredar poster peringatan untuk tidak mengajak anak nonton film Joker di beberapa group diskusi dan lini media sosial. Entah siapa yang membuat atau awalnya menyebarkan poster tersebut. Adakah kamu menerimanya juga?

Memang, bila mengingat film produksi Warner Bros yang satu ini oleh Lembaga Sensor Film (LSF) sudah diberi label D17+ alias untuk penonton dewasa di atas 17 tahun, peringatan tersebut tidak perlu ada. Tapi nama Joker terlanjur lekat dengan sosok superhero yang jadi idola banyak anak, Batman.

Itulah kenapa, tim kumparanMOM merasa perlu menonton langsung film ini di hari pertama dan membuat ulasannya dari kacamata orang tua. Apa saja catatan kami setelah menyaksikannya?

1.Bukan Film Superhero
Hal pertama yang perlu diketahui orang tua: ini bukan film superhero dan sama sekali tidak seperti film DC atau Marvel yang mungkin sudah ditonton anak-anak, dan kamu tak akan menemukan jagoan berkostum keren, alien jahat dari luar angkasa atau senjata canggih dengan teknologi mutakhir di film ini yang diperankan oleh Joaquin Phoenix ini.

Ya Moms, 'Joker' adalah film thriller yang bercerita tentang seorang pria paruh baya bernama Arthur Fleck yang berupaya menjadi seorang stand up comedian sukses. Namun, kondisi politik, sosial, dan ekonomi kota Gotham yang berantakan terus menjegal langkahnya. Semua kesulitan dan rintangan inilah yang membuat pandangan hidup Arthur berubah hingga menjadi seorang kriminal.

Semua kata-kata yang dilontarkan sosok Joker dalam film ini rasanya juga tidak bisa dianggap menghibur. Lelucon-lelucon yang ia tampilkan bahkan jadi satu tragedi ironis. Tidak ada yang lucu sama sekali!

2.Tidak Ada Pesan Positif
Joker jelas bukan sosok yang kita harapkan bisa jadi panutan untuk anak. Dia digambarkan memiliki penyakit mental, kerap bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri, yang mendorongnya melakukan kekerasan dan pembunuhan. Tokoh-tokoh lain dalam film ini pun, rasanya tidak ada yang bisa jadi contoh baik untuk si kecil.

3.Sepanjang durasi 122 menit kamu justru dapat menemukan semua hal yang tidak pantas disaksikan anak .
Adegan pengeroyokan, penggunaan senjata, baku hantam, mayat korban, gambar porno, orang mabuk, merokok, telanjang, masturbasi, kerusuhan, penusukan, perusakan, penembakan hingga pembunuhan yang sangat gamblang dan semburan darah, semua ada!

4.Berdampak untuk Anak
"Anak di bawah 13 tahun, masih berpikir konkret dan cara belajar paling baik bagi mereka adalah modelling, meniru. Jadi jelas besar ya, dampaknya kalau diajak nonton," psikolog Alzena Masykouri MPsi, Psi, dari Sentra Tumbuh Kembang Anak, Kancil, Jakarta Selatan, terkait film ini.

Sementara anak di atas 13 tahun, mulai bisa berpikir abstrak, memahami alasan orang lain dan mulai membuat prinsip sendiri. "Baru mulai lho, ya! Artinya masih sangat perlu pendampingan dan diskusi supaya konsep yang terbentuk sesuai dengan value yang dianut keluarga dan norma manusiawi secara umum," tegasnya.

Mungkin, ada juga anak yang tidak bertanya apa-apa dan tampak 'baik-baik' saja setelah menonton film yang suram seperti Joker ini. Namun kata Alzena, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya.

Hal ini karena otak anak telah terpapar sesuatu yang tidak semestinya dia saksikan dan dengar. Dampaknya, anak bisa menjadi stres, tertekan, lantas menjadi sinis, hingga berpikir dan berperilaku negatif.

Satu lagi yang perlu kamu tahu, Moms: tidak ada sosok Batman di film Joker ini! Jadi lebih baik, patuhi saja batasan usia yang sudah ditetapkan untuk film ini. Kecuali bila kamu merasa siap menanggung dampak yang telah dijelaskan oleh psikolog anak di atas tadi.

Nita yuliyanti,4Oktober2019

Share This