Star Radio - Pesan Keberagaman Lewat Sajian Makanan Gugah Selera dalam “Tabula Rasa”
Movie & Cinema
Pesan Keberagaman Lewat Sajian Makanan Gugah Selera dalam “Tabula Rasa”
April 7th | 2020

Kuah berwarna kuning kemerahan itu dimasak dengan tungku kayu bakar. Kepala ikan kakap dimasukkan, lalu diaduka perlahan-lahan. Tak lupa ditambahkan daun ruku-ruku dan dibiarkan matang. Adegan memasak gulai kepala ikan kakap dalam “Tabula Rasa”. Sebelum film “Aruna dan Lidahnya” rilis pada tahun 2018, hadir terlebih dahulu “Tabula Rasa”, yang juga memanjakan penonton denga visual beragam makanan yang menggugah selera. Padahal sejatinya “Tabula Rasa” bukan berfokus sebagai film kuliner, ia bercerita tentang para pelaku dalam film yang menemukan harapan baru. Pemuda itu bernama Hans (Jimmy Kobogau). Ia tunggal di panti asuhan dan biasa membantu memasak untuk seluruh penghuni panti. Sehari-harinya ia berlatih sepak bola dan menjadi anggota tim kesebalasan sebuah klub di Serui, Papua. Hingga suatu ketika datanglah pencari bakat. Ia diajak ikut klub sepakbola di Jakarta. Ia sangat bangga dan menerima tawaran. Selang, beberapa waktu kemudian, penampilan Hans berubah. Ia brewokan, bajunya lusuh dan ia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang. Jalannya juga pincang. Ketika ia gagal bunuh diri, ia ditolong seorang Ibu dan asistennya. Ibu yang disebut Mak Uwo (Dewi Irawan) itu rupanya pemilik kedai nasi padang. Ia memberi Hans sepiring nasi dan semangkuk gulai kepala ikan kakap yang mengingatkan Hans pada masakan ikan kuah kuning kampung halamannya. Mak Uwo beberapa kali mengajak Hans membantunya berbelanja ke pasar. Perhatian Mak kepada Hans menimbulkan iri hati asistennya, si juru masak Parmanto (Yayu Unru) dan si juru hiding Natsir (Ozzol Ramdan). Konflik semakin pelik ketika tak jauh dari warung mereka, hadir restoran padang yang megah. Hidangan yang Menggugah Selera Dapur milik Mak Uwo terbilang sederhana. Ia masih menggunakan kayu bakar. Untuk memarut dan memeras santannya ia lakukan sendiri karena ia beranggapan semua makanan akan lebih enak jika diolah dengan tangan. Ia setia dengan resep dan teknik memasaknya. Masakan rendang harus diaduk dengan hati, tak boleh keseringan diaduk atau sebaliknya, jarang diadik, selama sekitar empat jam. Dalam film 100 menitan ini penonton diajak ikut memasak, menikmati hidangan lewat mata, dan juga menambah pengetahuan tentang jenis masakan. Ada rendang basah yang disebut kalio dan ada juga rendang kering yang agak kehitaman. Ada juga dendeng batakok yang penampilannya mirip empal gepuk tapi dengan irisan cabe hijau. Pesan Keberagaman yang Kental Film “Tabula Rasa” rilis di bioskop pada tahun 2014. Ia berhasil menyabet 6 nominasi piala Citra dan meraih 4 piala lewat sutradara, pemeran utama wanita, pemeran pendukung pria, dan penulis scenario asli terbaik. Para pemerannya memang juara. Mereka berakting natural. Di antara ketiga pemain, hanya Dewi Irawan yang memang darah Minang. Ozzol Ramdan dan Yayu masing-masing berdarah Sundah dan Makassar. Film ini ditayangkan secara streaming di Netflix. Beberapa lagu memberikan latar dan memperkuat emosi sebuah adegan. Menguatkan nuansa Minang ada “Teluk Bayur” dari Ernie Djohan dan “Mak Inang Pulai Kampai”. Selain itu juga ada musik dari alat musik tradisional yang mewakili Minang seperti saluang dan Papua seperti tifa. Film ini kaya pesan. Yang pertama untuk membantu siapapun tanpa membedakan suku. Mak Uwo tanpa beban berupaya menolong Hans. Pesan kedua yaitu tidak menharapkan pamrih ketika membantu. Hans diingatkan Mak agar tidak mengukur segala sesuatunya dengan materi. Pesan berikutnya yang menyentuh adalah keberagaman. Siapa sangka orang Papua bekerja di warung Padang dan kemudian belajar memasak aneka sajian Padang. Dalam film ini juga kental dengan dialog Minang juga kelakar khas Minang dan Papua. Pesan terakhir dan ini film ini adalah “Tabula Rasa”. Ia bermakna kertas kosong atau memulai sesuatu yang baru. Kalian akan bisa menyaksikan perubahan dalam tiap-tiap tokoh dalam film ini seiring dengan dinamika cerita. Nah stars inilah rekomendasi film selanjutnya. Siapa tau setelah menonton film ini kalian jadi ingin belajar memasak… hehehe -- Steven Sung

Share This