Star Radio - Mereka-mereka yang Tetap Tidak Bisa Work From Home, Walaupun Ingin. Situasinya Semakin Sulit
Lifestyle
Mereka-mereka yang Tetap Tidak Bisa Work From Home, Walaupun Ingin. Situasinya Semakin Sulit
March 24th | 2020

Selain menetapkan bahwa status darurat bencana nasional akibat virus corono atai wabah Covid-19 di Indonesia diperpenajang hingga 29 Mei 2020, pemerintah terus mengimbau kita untuk mempraktikkan social distancing nalias #JagaJarakSejenak. Dalam konferensi pers di Istana Bogor 16 Maret 2020 lalu, sebagaimana dilansir dari laman Kompas, Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan betapa pentingnya untuk kita sekarang bekerja, belajar, dan beribadah di rumah masing-masing.

Realitanya, hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi jika pemerintah hanya menghimbau tanpa ketentuan maupun peraturan yang jelas.

Di satu sisi, banyak yang tampaknya memang tidak paham kalau kebijakan kerja dari rumah itu sama sekali bukan berarti liburan. Namun di sisi lain, memang banyak orang Indonesia yang kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja dari rumah. Selain banyak perusahaan yang tidak atau belum mengindahkan imbauan Presiden untuk menerapkan kerja dari rumah, pekerja sector informal di Indonesia juga jumlahnya sangat banyak. Alhasil, meskipun sudah berkali-kali diimbau akan bahaya persebaran Covid-19, masih banyak orang Indonesia yang tetap harus keluar rumah demi menyambung hidup. Terutama profesi-profesi berikut.

Mereka yang bekerja di bidang jasa, jelas sulit bekerja dari rumah. Apalagi kalau jasa yang ditawarkan seperti mita ojek online. Mereka tetap harus turun ke jalan di masa-masa genting ini, demi pemasukan harian.

Penyedia berbagai jasa yang basisnya bertemu langsung dengan pelanggan, mungkin hanya bisa gigit jari dengan imbauan pemerintah untuk bekerja dari rumah (WFH). Imbauan itu sebenarnya sama saja dengan menyuruh mereka tidak bekerja pada hari maupun minggu ini, atau entah sampai kapan wabah ini berlangsung. Sebenarnya bisa dipahami jika banyak pekerja di sektor jasa seperti ini, yang akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja dalam kondisi apapun. Apalagi jika sifatnya imbauan, bukan aturan mengikat atau seharusnya jaminan kalau mereka tetap bisa hidup selayaknya jika memutuskan pandemi ini berlangsung.

Beberapa perusahaan unicorn penaung mitra-mitra ojol, memang sudah mencanangkan berbagai rencana untuk melindungi mitranya di saat-saat genting seperti ini. Seperti pembagian masker gratis atau opsi selivery tanpa bersentuhan. Namun itu pun tampaknya tidak menjawab bagaimana mitra ojol yang jumlahnya diperkirakan mencapai 2-2,5 juta orang di negeri ini. Sebuah kemungkinan yang harus benar-benar dipikirkan jika ingin social distancing di Indonesia lebih efektif.

Atau mereka yang bekerja di sektor produksi, seperti pekerja pabrik. Tanpa alat, mesin atau assembly line di pabrik, pekerjaan mereka jelas mustahil dilakukan di rumah.

Pekerja pabrik pun tidak memiliki opsi work from home, kecuali produksi pabrik dihentikan atau dikurangi. Imbauan pemerintah itu nyatanya masih banyak tidak dilakukan oleh perusahaan sehingga jutaan buruh padat karya saat ini masih bekerja. Bahkan menurut Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) yang dilansir dari CNN, banyak dari mereka yang bekerja tanpa perlindungan dtandar seperti penyediaan hand sanitizer atau masker. Terlebih lagi mereka biasanya bekerja dalam ruangan tertutup dan berdekatan satu sama lain.

Bagi mereka yang berkerja di sektor informal seperti pedagang di pasar tradisional. Akan sangat sulit jika mereka harus tetap di rumah dan tidak berjualan mencari penghidupan.

Social distancing atau bahkan lockdown memang akan sulit dilakukan secara efektif di negeri ini terutama mengingat banyaknya pekerja di sektor informal yang harus pergi keluar untuk ‘menjemput’ uang. Ada driver ojol, ada juga pedagang-pedagang kecil yang menjajakan jualannya di pasar dan pinggir jalan. Bukannya WFH, mereka mungkin menyediakan layanan tambahan seperti jasa antar pelanggan untuk bertahan di era pandemi seperti ini. Seperti misalkan beberapa pedagang sayur keliling yang sudah memanfaatkan WA dan sistem pesan antar sayuran langsung ke rumah-rumah warga.

Belum lagi kebutuhan berita seperti harinya untuk memantau perkembangan bencana Covid-19. Di balik setiap berita yang kita lahap, ada jurnalis yang mempertaruhkan nyawanya di luar sana.

Ketersediaan informasi sudah jelas jadi kebutuhan penting di saat-saat krisis seperti ini, makanya wartawan dan jurnalis justru makin sibuk mengejar berita. Apalagi reporter yang harus langsung melaporkan situasi, mereka jelas tidak bisa work from home. Paling ada sistem rolling atau bergantian shift dengan rekan lain, tapi tetap harus siaga.

Terutama mereka yang ada di garda terdepan ‘pertarungan’, yakni para petugas medis. Kita yang bisa WFH harus tetap di rumah, demi dokter, perawat, dan petugas medis lainnya yang sedang berjuang di rumah sakit.

Work from home jelas mustahil bagi para tenaga medis yang sedang berjuang melawan persebaran virus ini di garda terdepan. Mereka harus bekerja menghadapi risiko infeksi dan kelelahan tiap harinya, sering kali dengan alat pelindung diri (APD) yang sangat minim.

 

 

 

Tuh stars, Covid-19 semakin marak dan semakin mencengkam keadaan untuk saat ini. Untuk kalian yang tidak memiliki kepentingan sebaiknya stay at home aja ya, supaya tetap terjaga semuanya…

 

--

Steven Sung

Share This