Star Radio - Inspirasi Keberagaman Lewat Film “Cahaya dari Timur”
Movie & Cinema
Inspirasi Keberagaman Lewat Film “Cahaya dari Timur”
April 13th | 2020

Kota Ambon yang mendapat julukan The City of Music ini memang terasa nyaman. Sosok Glenn Fredly yang juga ikut bermain di dalam film ini seperti mengenang kebaikan yang sudah dia lakukan semasa hidup. Film berdurasi dua setengah jam ini mengangkat kisah konflik yang pernah terjadi di Maluku antara etnis islam dan Kristen pada tahun 1999. Ternyata berhasul diredam lewat sepak bola.

Dibintangi oleh Chicco Jericho sebagai Sani Tawainella, mantan pemain sepak bola yang pulang kampung setelah gagal merintis karir sebagai pesepakbola profesional dan kemudia menghidupi keluarganya dengan mengojek.

Dalam situasi konflik agama yang terjadi di Maluku, Sani berkeinginan untuk menyelamatkan anak-anak kampungnya melalui sepakbola. Bercerita tentang Sani Tawainella, hidup dengan istrinya Harpa dan dua anaknya.

Mantan pemain sepak bola kelahiran Tulehu ini berniat mengajak anak-anak Tulehu untuk berlatuh sepak bola setiap petang. Sani melihat bagaimana kerusuhan membuat anak-anak menjadi terdistraksi dan ikut berlari untuk menonton setiap tiang listrik dibunyikan.

Gejolak konflik kerap kali terjadi kerusuhan pecah di perbatasan. Sani yang sebagai tukang ojek melihat anak-anak Tulehu harus dihindati dari konflik. Bahkan ada anak yang karena orang tuanya kena peluru nyasar.

Anak-anak yang dilatih oleh Sani sudah remaja. Sani tidak melatih seorang diri melainkan dibantu oleh sahabatnya dari kecil yaitu Rafi. Namun, pemikiran Rafi bertolak belakang dengan Sani. Diam-diam Rafi membuat Sekolah Sepak Bila Tulehu Putra tanpa sepengetahuan Sani. Konflik tersebut membuat hubungan Sani dan Rafi renggang.

Saah satu utusan dari Sekolah Paso yang merupakan sekolah kristiani meminta Sani melatih tim SSB Paso untuk menghadapi John Mailoa Cup. Awalnya keputusan untuk merekrut Sani ditolak oleh pemilik SSB karena Sani seorang muslim.

Hanya langkah ini berhasil diyakinkan oleh Josef Matulessy kalau merekrut Sani dilihat berdasarkan kapabilitas dan terbatasnya waktu persiapan turnamen.

Dalam Final John Mailoa Cup, tim SSB Tulehu Putra bertemu SSB Paso di lapangan hijau. Sani dan Rafi pun menjadi rival. Namun Sani gagal mengalahkan Tulehu dan harus rela menjadi juara dua John Mailoa Cup.

Nasib baik berpihak pada Sani ketika dipercaya untuk memimpin anak-anak Maluku bersama Rafi untuk mengikuti kejuaraan nasional Medco Foundation U-15 di Jakarta.

Hanya saja gengsi Rafi tinggi sehingga dia mundur untuk mejadi asisten Sani dengan alasan ialah yang berhak menjadi pelatih karena berhasi membawa SSB Tulehu.

Konflik pun tak berhenti sampai disitu, Sani harus menyatukan konflik antara anak-anak SSB Tulehu Putra dan SSB Paso yang berasal dari latar belakang agama berbeda. Selain iu juga berhadapan dengan anak-anak Jakarta yang pernah mengalahkan mereka sebelumnya.

Sani sempat turun motivasi karena merasa apa yang ia kerjakan sia-sia. Sampai akhirnya Sufya Lestaluhu yang diperankan oleh Glenn Fredly memberikan motivasi yang sangat tinggi kepada Sani. Hadirnya peran Sufyan sangat penting dalam karakter Sani.

Alhasil, Sani bersama tim Malukunya berhasil memenangkan kompetisi PSSI U-15 setelah mengalahkan wakil DKI Jakarta di partai final lewat drama adu penalty. Dalam pertandingan, siaran langsung sempat berhenti. Di sinilah magis terjadi yang membuat masyarakat Maluku cemas untuk mendengar pertandingan.

Scene film terus berlanjut. Pertandingan masih tetap bisa didengan dengan cara telepon. Lewat masjid dan gereja, mereka menyuarakan situasi pertandingan adu penalty. Terlihat beberapa umat muslim pun bergabung ke gereja untuk ikut mendengar.

Sani mengingatkan kembali tujuan anak-anak Maluku datang ke Jakarta adalah bukan merka islam, Kristen, Tulehu ataupun Paso melainkan mereka adalah Beta Maluku.

Film ini kental dengan pesan keberagaman. Suatu euphoria kemenangan dapat meredam konflik yang terjadi. Suasana antar etnis agama pun kembal hangat.

Film ini mengajarkan mengenai Pela Gandong, ale rasa beta pun rasa. Sekarang, tak seorang pun tak mengenal Tulehu, tempat lahirnya pemain sepak bola berbakat dari Maluku. Meski terdengar klise, sepak bila mungkin jadi jalan keluar sebagai hiburan dan pembelajaran pribadi.

 

Nah stars, bukan hanya untuk mengenang Glenn Fredly aja nih, tapi dari film ini juga mengajarkan kita untuk tidak membeda-bedakan apapun agama kita. Indonesia tetaplah satu!!!

 

--

Steven Sung

Share This