Star Radio - “Galih dan Ratna”, Kisah Toko Kaset Roman Remaja
Movie & Cinema
“Galih dan Ratna”, Kisah Toko Kaset Roman Remaja
March 13th | 2020

Toko musik pada era digital semakin langka, apalagi yang bertahan dengan menjual album kaset. Mereka yang bertahan dengan toko musiknya rata-rata mereka yang idealis. Toko kaset ini menjadi latar kisah hubungan Galih dan Ratna, sepasang remaja penggandrung music.

Galih (Refal Hady) adalah siswa penerima beasiswa. Ia berasal dari keluarga sederhana dan bertekad untuk rajin belajar agar tetap dapat meraih beasiswa dan lolos kampus negeri dari jalur prestasi.

Sepulang sekolah ia selalu menjaga toko musik warisan ayahnya. Ia selalu ditemani Walkman dan kaset mixtape yang dibuat ayahnya untuk dirinya.

Lalu hadirlah Ratna (Sherly Sheinafia) ke kehidupan Galih. Ia murid pindahan dari Jakarta. Ia langsung merasa dekar dengan Galih setelah ia mengetahui temannya itu tahu banyak soal musik. Ia begitu antusias melongok isi toko yang dikelola Galih.

Nasib toko itu sudah di ujung tanduk. Ibunya akan menjualnya. Sementara Galih dan Ratna yakin toko kaset ini suatu ketika akan kembali bangkit. Keduanya memiliki rencana dengan masa depan mereka menjadi taruhannya.

Jarang-jarang sebuah film yang menunjukkan kalangan muda yang begitu antusias terhadap musik. Sebagian besar yang lahir di era 1990an pasti pernah mendengarkan musik memalui kaset.

Ada beberapa hal yang menarik dari film ini. Yang pertama adalah kaset ‘mixtape’.

Cara mengumpulkan bahan-bahannya adalah mendengarkan dari siaran radio, hanya kadang-kadang dari kaset. Yang terjadi kadang-kadang suara si penyiar masuk. Ketika akhirnya satu kaset itu terisi penuh dengan lagu-lagu favorit sendiri, senang sekali rasanya.

Oleh karena itu, saya sedikit paham kenapa ide tentang mixtape ini muncul. Si sutradara, Lucky Kuswandi, atau si penulis naskah Fathan Todjon mungkin juga pernah mengalami masa-masa itu, sehingga berani menelurkan ide tersebut.

Yang kedua, tokoh Galihnya kurang gila akan music. Memang sosok Galih menggambarkan rajin menjaga toko kaset warisan ayahnya meski sangat jarang yang mampir dan membeli. Ia juga nampak kemana-mana membawa Walkman atau nampak sibuk menata kaset.

Tapi ia jarang membahas tentang band ini atau band itu, lagu ini dan lagu itu. Padahal jika ia memang anak penggila musik maka ia akan tak tahan untuk berbicara lagu ini dan itu.

Ia juga pasti tak tahan untuk menunjukkan sampul sebuah kaset dan memberitahu hal-hal menarik seputar sampul ataupun lirik yang ada dalam sampul tersebut.

Ya Refal Hady agak kurang sebagai remaja penggemar musik, tapi ia cocok sebagai anak baik-baik yang rajin belajar. Hal ini berlawanan dengan Sheryl.

Mungkin karena Sheryl dikenal sebagai pembawa acara musik maka ia nampak mahir bermain gitar atau bernyanyi dalam film ini. Namun ia kurang luwes saat harus membuka percakapan atau berdialog dengan Refal. Dialognya itu-itu saja, kurang berkembang.

Catatan ketiga yaitu teman-temannya Galih dan Ratna yang ajaib. Mereka komikal tapi ini menghibur dan membuat film lebih semarak. Kehadiran Joko Anwar sebagai salah satu guru juga memberikan bumbu dalam film ini.

Berikutnya soal orang tua yang klise. Karakter ayah Ratna dan ibu Galih adalah sosok kolot yang biasanya juga muncul di beberbagai film remaja. Tapi kalau tidak ada sosok seperti ini ceritanya akan terlihat datar. Hanya jatuhnya konfliknya jadi mudah ditebak.

Di awal film ada sosok Galih dan Ratna era 2016. Benang merah lainnya yaitu lagu “Galih dan Ratna” dalam versi modern, juga judul kaset mixtape yang diberikan Galih ratna, “Gita Cinta”.

Yang paling kusuka dari film ini adalah keberadaan toko kasetnya. Latar ini punya potensi lebih untuk dioptimalkan. Aku suka gagasan Ratna dan Galih untuk menghidupkan kembali kebiasaan mendengar lagu lewat kaset.

Kata Galih, setiap orang perlu mendengar semua lagu dan satu album agar mendapat esensi pesan dari musisi tersebut. Ketika kita dengan sadar mendengarkan lagu-lagu yang kita kurang sukai, maka akan ada perasaan luar biasa ketika lagu favorit kita berkumandang.

 

Nah stars, siapa yang belum nonton film ini? Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah menontonnyakan?

 

--

Steven Sung

Share This