Star Radio - Dinilai Terlalu Pintar, Film Fiksi Sains Annihilation Batal Tayang di Indonesia
Movie & Cinema
Dinilai Terlalu Pintar, Film Fiksi Sains Annihilation Batal Tayang di Indonesia
February 21st | 2018

Hai Stars, film fiksi-sains paling ditunggu tahun ini, Annihilation direncankan tayang di Indonesia 23 Februari nanti. Namun, ia batal tayang karena “terlalu pintar” untuk dicerna penonton awam.

Film fiksi-sains Annihilation batal tayang di Indonesia karena pihak studio menganggap film ini terlalu pintar untuk dimengerti penonton awam.

Annihilation sebelumnya direncanakan akan rilis di bioskop internasional, termasuk Indonesia pada 23 Februari mendatang. Film ini menjadi film bergenre fiksi-sains paling ditunggu-tunggu tahun ini.

Annihilation disutradarai oleh Alex Garland, sutradara yang sebelumnya terkenal lewat film indie Ex Machina (2014). Film terbarunya ini—lihat trailer-nya di sini—bercerita tentang seorang ilmuwan Biologi (diperankan Natalie Portman) yang memasuki sebuah teritori asing bernama ‘X’. Ada sesuatu yang misterius dan sureal di dalam wilayah tersebut yang mengganggu akal sehat.

Paramount, studio di balik film fiksi-sains ini telah mengambil langkah tak biasanya dengan menjual hak rilis internasional film Annihilation kepada Netflix. Itu artinya, Annihilation batal tayang di bioskop-bioskop internasional, termasuk Indonesia. Namun, ia masih dirilis di pasar terbesar film dunia, Amerika Serikat dan Cina.

Ironisnya, Paramount sebelumnya pernah merilis film dengan tema serupa, Arrival tahun 2016 lalu. Arrival menjadi salah satu hits tahun itu bagi Paramount. Pendapatan kasarnya mencapai $203 juta (Rp2.9 triliun) dan berjaya di mata kritikus dengan berhasil menyabet delapan nominasi Oscar, termasuk Best Picture dan Best Director.

Namun Stars, kali ini mereka tampaknya ogah merilis Annihilation di layar lebar. Pergerakan tersebut menunjukkan Paramount sudah memprediksi film ini tak akan mendatangkan banyak uang.

Upaya Paramount membatalkan menjual hak rilis ini menunjukkan kurangnya kepercayaan mereka kepada para filmmaker yang mereka rekrut sendiri. Seperti dilansir dari The Hollywood Reporter, salah satu ahli keuangan studio, David Ellison berselisih paham dengan Garland dan produser Scott Rudin tentang pergantian ending film. Dalam perjanjian awal, Rudin punya hak tunggal untuk menentukan hasil akhir film. Ia memberi hak tersebut pada Garland, dan Garland menolak untuk menggantinya.

Beni Saputro, 2018 (Duniaku)

Share This